Daftar Blog Saya

30 Nov 2011

revolusi Agama hindu di india


Sejarah Agama Hindu di India, perkembangannya dapat diketahui dari kitab-kitab suci Hindu yang terhimpun dalam Veda Sruti, Veda Smrti, Itihasa, Upanisad dan sebagainya.
Pertumbuhan filsafat keagamaan (Darsana) dan perkembangan pelaksanaan keagamaannya tak dapat melepaskan diri dari sumber-sumber tersebut, sehingga perkembangan agama senantiasa bersifat religius, dalam arti dan bernafaskan keagamaan. Agama Hindu merupakan sumber kekuatan batin yang menjiwainya.
Perkembangan Agama Hindu di India, berlangsung dalam kurun waktu yang amat panjang yaitu berabad-abad hingga sekarang. Sejarah yang amat panjag itu menurut pendapat Govinda Das Hinduism Madras, 1924, halaman 25, zaman dikatakan dapat dibagi 3 bagian yang besar, sekalipun batas-batas pembagiannya tak dapat dipastikan dengan jelas. Ketiga bagian itu adalah :
2.1.1.      Zaman Veda Kuna.
2.1.2.      Zaman Brahmana.
2.1.3.      Zaman Upanisad.


2.1.1. Zaman Veda Kuna
Zaman ini dimulai dari datangnya bangsa Arya kurang lebih 2500 tahun sebelum masehi ke India, dengan menempati lembah sungai Sindhu, yang juga dikenal dengan nama Punyab (daerah lima aliran sungai). Bangsa Arya tergolong ras Indo Eropa, yang terkenal sebagai pengembara cerdas, tangguh dan trampil.
Zaman Veda kuna merupakan zaman penulisan wahyu suci Veda yang pertama yaitu Rg Veda. Kehidupan beragama pada jaman ini, didasarkan atas ajaran-ajaran yang tercantum pada Veda Samitha, yang lebih banyak menekankan pada pembacaan perafalan ayat-ayat Veda secara oral, yaitu dengan menyanyikan dan mendengarkan secara berkelompok.
Veda adalah kitab suci Agama Hindu. Sumber ajaran Agama Hindu adalah kitab suci Veda. Semua ajarannya bernafaskan Veda. Veda menjiwai ajaran Agama Hindu, karena itu agama Hindu mengakui kewenangan ajaran kitab suci Veda. Veda adalah wahyu atau sabda suci Tuhan Yang Maha Esa/Hyang Widhi Wasa, yang diyakini oleh umatnya sebagai anadi ananta yakni tidak berawal dan tidak diketahui kapan diturunkan dan berlaku sepanjang masa. Namun demikian di kalangan sarjana, baik Hindu maupun Barat telah berikhtiar untuk menentukan kapan sebenarnya Veda itu diwahyukan, hal ini dikemukakan antara lain oleh :
1)      Lokamaya Tilakshastri :
Memperkirakan Veda sudah diturunkan sekitar 6000 tahun sebelum masehi.
2) Bal Gangadhar :
Memperkirakan bahwa Veda sudah diturunkan sekitar tahun 4000 sebelum Masehi, yang diterima oleh para Maharsi.
Maharsi adalah orang-orang suci yang dapat berhubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa. Di dalam agama Hindu, Maharsi penerima wahyu itu tidaklah hanya seorang, melainkan beberapa orang, yang telah populer dengan sebutan Sapta Rsi yaitu tujuh orang Rsi adalah :
1) Grtsamada              5) Wasistha
2) Wiswamitra             6) Kanva
3) Atri                         7) Wamadeva
4) Bharadwaja
Selain Sapta Rsi, juga dikenalk 29 Maharsi penerima wahyu yang disebutkan dengan Nawavimsati Krtyasca Vedavyastha Maharsihbhih yaitu antara lain : Swaymabhu, Daksa, Usana, Aditya, Wrhaspati, Mrtyu, Indra, Wasistha, Saraswata, Tridhatu, Tridrta, Sandyaya, Akasa, Dharma Triyaguna, Dhananjaya, Kertyaya, Ranajaya, Gotama, Uttama, Parasara dan Vyasa.
Pada zaman Veda, dilanjutkan dengan penulisan dan penghimpunan wahyu Veda lainnya, seperti Sama Veda Yajur Veda dan Atharva Veda, yang penulisannya mempunyai jarak waktu sangat jauh jika dibandingkan dengan Rg Veda.
Menurut tradisi Hindu, Maharsi terbesar yang sangat besar jasanya dalam menghimpun dan mengkodifikasikan Catur Veda adalah Maharsi Vyasa. Beliau dibantu oleh empat orang siswanya yaitu :
1)      Maharsi Pulaha sebagai penyusun Rg Veda.
2)      Maharsi Jaimini sebagai penyusun Sama Veda.
3)      Maharsi Waisampayana sebagai penyusun Yajur Veda.
4)      Maharsi Sumantu, sebagai penyusun Athara Veda.

1) Rg Veda
Merupakan yang tertua dan terpenting. Isinya dibagi atas 10 mandala, menunjukkan kebenaran yang mutlak. Mantranya terdiri dari 10.552, diucapkan untuk mengundang, mendekatkan Tuhan Yang Maha Esa dan manifestasi yang dipuja agar hadir pada saat upacara. Pengucapan mantra adalah pemimpin upacara yang disebut Hotr.
2) Sama Veda
Isinya hampir seluruhnya diambil dari Rg Veda, kecuali beberapa nyanyian suci yang dinyanyikan pada waktu pacara dilakukan. Jumlah mantranya terdiri dari 1875. Penyampaian nyanyiannya diberikan lagu,  yang diucapkan oleh pemimpin uapcara yang disebut Udgatr.
3) Fajur Veda
Terdiri dari 1975 mantra, berbentuk prosa yang isinya berupa yajur atau rafal dan doa pengucapannya adalah pemimpin upacara bernama Adwaryu pada saat dilaksanakan suatu upacara korban. Fungsi rafal adalah bukan menuju para dewa melainkan untuk mengubah upacara korban yang dipersembahkan menjadi makanan yang dapat diterima oleh para dewa dengan pengucapkan berulang-ulang disertai dengan menyebutkan nama dewa yang dihadirkan.
4) Atharva Veda
Terdiri dari 5987 mantra berbentuk prosa yang isinya berupa mantra-mantra dan kebanyakan bersifat magis, yang memberikan tutunan hidup sehari-hari berhubungan dengan keduniawian seperti tampak dalam sihir, tenung, perdukunan. Isi sihir-sihir dimaksud bertujuan untuk menyembuhkan orang-orang sakit, mengusir roh-roh jahat, mencelakakan musuh dan lain sejenisnya.
Veda sebagai sumber ajaran agama Hindu terdiri dari kitab Sruti dan Smrti. Sruti adalah wahyu sedangkan Smrti adalah kitab yang menguraikan komentar, penjelasan atau tafsir terhadap wahyu. Materi veda diuraikan pada Sruti dan Smrti. Sruti menurut sifat dan isinya dibedakan atas 4 bagian, yaitu :
1) Mantra ;                  3) Aranyaka ;
2) Brahmana ;              4) Upanisad.
Kitab mantra atau mantra samhita, umumnya sangat tua dan merupakan dokumen umat manusia yang tertulis dan masih ada hingga sekarang, memakai bahasa Sansekerta. Kitab tersebut dipakai pedoman dalam melaksanakan kehidupan beragama.
Kepercayaan pada zaman Veda kuna sebagai dasar keagamaan agama Hindu menurut kitab-kitab Veda Samhita ada dua golongan zat hidup yang kedudukannya lebih tinggi dari pada manusia, yaitu : Dewa-dewa dan roh-roh jahat.
Dewa-dewa yang dipercayai kedudukannya lebih tinggi, karena bersikap murah pada manusia dan berkenan menerima pujaan dan pujian manusia. Dewa-dewa selalu dihadirkan dalam menyelamatkannya dari gangguan-gangguan roh jahat. Mengenai jenis korban yang dilakukan, ada dua macam, yaitu :
1)      Korban tetap, seperti :
-          tiap kali,
-          pada waktu pagi dan sore,
-          tiap bulan baru,
-          tiap bulan purnama,
-          tiap awal musim semi,
-          tiap awal musim hujan,
-          tiap awal musim dingin
2)      Korban berkala, seperti :
-          Korban soma,
-          Korban Aswameda/Korban Kuda,
-          Korban Rajasuya.
Selain korban-korban tersebut, juga masih ada upacara-upacara lain yang harus dilakukan yaitu seperti pada waktu : istri mengandung, istri melahirkan anak, anak berumur tiga bulan, anak akan diajak bepergian untuk pertama kalinya, anak untuk pertama kali mulai diberi makan, anak dicukur yang pertama kalinya.
Mengenai Dewa-dewa dalam Rg Veda disebutkan ada 33 Dewa, dibedakan atas : Dewa-dewa langit, Dewa-dewa Angkasa, Dewa-dewa Bumi.
Dewa-dewa langit antara lain adalah Dewa Waruna, yang dipandang sebagai pengawas tata dunia atau Rta. Akibat karya Dewa Waruna maka langit teratur, sungai-sungai mengalir dengan baik dan musim-musim datang pada waktunya. Dewa Waruna memberikan hadiah kepada yang mengikuti Rta dan hukuman kepada yang jahat. Selain Waruna juga Dewa Surya dan Dewa Wisnu termasuk Dewa Langit. Dewa Surya diyakini dapat memperpanjang hidup dan mengusir penyakit. Dewa Surya digambarkan sebagai menaiki kereta yang ditarik oleh tujuh ekor kuda. Dewa Wisnu dimasukkan Dewa langit karena dapat melangkah tiga langkah. Langkahnya yang ketiga dipandang tertinggi, sebagai Surga tempat kediaman para Dewa.
Dewa-dewa Angkasa antara lain adalah Dewa Indra dan Dewa Angin. Dewa Indra sering disebut Dewa perang dan mendapatkan kehormatan yang besar sekali, sebab sering membantu manusia dalam perang. Dewa Indra digambarkan bersenjatakan panah/wajra. Dewa angin dipandang sebagai dewa yang penting.
Yang termasuk Dewa-dewa bumi adalah Dewa Pertiwi, dan Dewa Agni. Dewa Pertiwi adalah Dewa Bumi yang sering disembah sebagai Dewa Ibu. Dewa Agni juga disebut Dewa Api, yang sering dimohon anugrahnya sebab itu api tetap dipergunakan dalam pelaksanaan upacara keagamaan.
Pandangan terhadap roh-roh jahat ada dua golongan, yaitu yang tinggi dan rendah martabatnya. Yang tinggi martabatny menjadi musuh para Dewa-dewa seperti Dewa Warta yaitu musuh dari Dewa Indra. Dewa Warta adalah penguasa musim kemarau.
Yang rendah martabatnya adalah Raksasa, yang sering menampakkan dirinya sebagai binatang, manusia, pisaca, yang suka makan daging mentah dan mayat serta bangkai-bangkai binatang.

2.1.2. Jaman Brahamana
Pada zaman ini ditandai dengan munculnya kitab Brahmana sebagai bagian dari Veda Sruti yang disebut karma kanda. Kitab ini memuat himpunan doa-doa serta penjelasan uapcara korban dan kewajiban-kewajiban keagamaan. Disusun dalam bentuk prosa yang ditulis oleh bangsa Arya yang bermukim di bagian timur India yaitu lembah sungai Gangga. Jumlah kitab Brahmana banyak, antara lain :
1) Rg Veda
Memiliki dua jenis yaitu Aiteriya dan Kauisitaki Brahamana.
2) Sama Veda
Memiliki kitab Tandya Brahmana yang dikenal dengan nama Panca Wimsa, memuat legenda kuna yang dikaitkan dengan upacara korban.
3) Yajur Veda
Memiliki beberapa buah kitab antara lain Taitirya Brahmana untuk Yajur Veda hitam/Kresna dan Yajur Veda Putih/Sukla.
4) Atharva Veda
Memiliki Gopatha Brahmana.
Perkembangan agama Hindu pada zaman Brahmana ini merupakan peralihan dari zaman Veda Samhita ke zaman Brahmana, kehidupan beragama pada zaman Brahamana ini ditandai dengan memusatkan keaktifan pada batin/rohani dalam upacara korban. Kedudukan kaum Brahmana mendapatkan perlindungan yang baik, karena dapat berpengaruh amat besar. Hal ini terlihat pada masa pemerintahan dinasi Chandragupta Maurya (322-298 sm) di kerajaan Magadha berkat bantuan Brahmana Canakya (Kautilya).
Pada zaman Brahmana pula timbul perubahan suasana yang bercirikan antara lain :
1)      Korban/yajna mendapat tekanan yang berat.
2)      Para Pendeta menjadi golongan yang sangat berkuasa
3)      Munculnya perkembangan kelompok-kelompok masyarakat dengan berjenis-jenis pasraman.
4)      Dewa-dewa menjadi berkembang fungsinya.
5)      Timbulnya kitab-kitab Sutra.
Ciri-ciri perkembangan kehidupan beragama pada zaman Brahmana ini, hidup manusia dibedakan menjadi 4 asrama sesuai dengan warna dan dharmanya yaitu :
1)      Brahmacari, yaitu masa belajar mencari ilmu pengetahuan untuk bekal menjalani kehidupan selanjutnya.
2)      Grhastha, yaitu tahap hidup berumah tangga dan menjadi keluarga.
3)      Wanasprastha, yaitu hidup menjadi penghuni hutan/pertapa.
4)      Sanyasin, yaitu kewajiban hidup meninggalkan segala sesuatu.

2.1.3. Zaman Upanisad
Kehidupan agama Hindu pada zaman ini bersumber pada ajaran-ajaran kitab Upanisad yang tergolong Sruti dijelaskan secara filosofis. Konsepsi terhadap keyakinan Panca Sradha dijadikan titik tolak pembahasan oleh para arif bijaksana dan para Rsi. Selain itu juga konsepsi terhadap tujuan hidup yang disebut Catur Purusa Artha yaitu : dharma, artha, kama dan moksa diformulasikan menjadi lebih baik.
Melalui upanisad yaitu duduk dekat dengan guru untuk menerima wejangan-wejangan suci yang bersifat rahasia, ajaran-ajaran tersebut diberikan kepada murid-muridnya yang setia dan patuh. Tempat berguru dilaksanakan dengan sistim pasraman, yaitu secara terbatas di hutan. Ajaran Upanisad disebut Rahasiopadesa atau Aranyaka yang berarti ajaran rahasia yang ditulis di hutan. Mengenai inti pokok dan isi upanisad yang diberikan, adalah pembahasan hakekat Panca Sradha Tattwa.
Jumlah semua kitab upanisad ada 108 buah dan tiap Veda Samhita mempunyai upanisad tersendiri, antara lain :
-          Rg Veda, mempunyai :
Atireya upanisad
Kausitaki upanisad
-          Sama Veda, mempunyai :
Chandogya upansiad,
Kena Upanisad
Maitreyi upanisad
-          Yajur Veda mempunyai :
Taitriyaka upansiad
Svetasvatara upanisad
Kausika Upanisad
Brhadaranyaka upanisad
Jabala upanisad.
-          Atharva Veda mempunyai :
Prasna Upanisad
Manduknya upanisad
Atharwasira upanisad
Tuntunan-tuntunan keagamaan pada zaman upanisad diarahkan untuk meninggalkan ikatan keduniawian dan kembali ke asal sebagai tujuan akhir mencapai moksa untuk menyatu pada Brahman.
Sistim hidup kerohanian melalui pasraman-pasraman itu, kemudian menimbulkan munculnya berbagai aliran filsafat keagamaan, yang masing-masing mencari dan menunjukkan cara atau jalan mencapai moksa itu. Aliran filsafat yang timbul keseluruhannya dapat dikelompokkan menjadi 9 yang disebut Nawa Darsana terdiri dari : Kelompok Astika yang juga disebut Sad Darsana meliputi :
1) Nyaya,                    2) Waesisika
3) Mimamsa                4) Samkhya
5) Yoga                       6) Wedanta

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar